Jejak Pengabdian yang Tertinggal di Tanah Mbaham Matta

Tajukterkini.com, Fakfak – Ada pertemuan yang hanya berlangsung sesaat, tetapi ada pula pertemuan yang meninggalkan jejak sepanjang usia. Begitulah kiranya kisah pengabdian AKBP Dr. Hendriyana selama lebih dari empat tahun memimpin Polres Fakfak.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya tersimpan ribuan langkah, ratusan keputusan, dan tak terhitung siang maupun malam yang dihabiskan demi memastikan masyarakat dapat beristirahat dengan tenang. Di balik seragam yang dikenakan setiap hari, ada tanggung jawab yang tidak pernah mengenal hari libur. Ketika masyarakat merayakan hari besar, aparat keamanan justru bersiaga. Ketika sebagian orang berkumpul bersama keluarga, seorang Kapolres sering kali harus berada di lapangan, memastikan semuanya berjalan aman.
Menjadi Kapolres di Fakfak bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Ini adalah amanah untuk menjaga tanah yang dikenal dengan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”, sebuah warisan luhur tentang persaudaraan, toleransi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman. Menjaga keamanan di daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan kebersamaan membutuhkan lebih dari sekadar kewenangan. Dibutuhkan kesabaran, kepekaan, dan kemauan untuk mendengar.
Selama masa pengabdiannya, berbagai dinamika hadir silih berganti. Ada persoalan kamtibmas yang harus diselesaikan, konflik yang harus didamaikan, bencana yang membutuhkan kehadiran aparat, hingga berbagai agenda nasional maupun daerah yang menuntut kesiapan tanpa henti. Semua menjadi bagian dari perjalanan yang tidak selalu mudah.
Namun setiap perjalanan pasti memiliki titik akhirnya.
Malam itu, ketika tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada AKBP Naim Ishak, bukan hanya sebuah jabatan yang berpindah tangan. Yang berpindah adalah amanah besar untuk menjaga kepercayaan masyarakat Fakfak.
Suasana penuh kehangatan dalam acara perpisahan bukan semata karena protokoler serah terima jabatan, tetapi karena hadirnya rasa hormat atas pengabdian yang telah dijalani. Kehadiran pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, para raja petuanan, Bhayangkari, hingga berbagai elemen masyarakat menjadi gambaran bahwa hubungan yang dibangun selama ini bukan hanya hubungan kelembagaan, melainkan hubungan kemanusiaan.
Kalimat sederhana yang disampaikan AKBP Dr. Hendriyana, “Fakfak akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup dan pengabdian saya,” mungkin terdengar singkat. Namun bagi mereka yang memahami arti sebuah pengabdian, kalimat itu menyimpan makna yang dalam. Sebab seorang aparat boleh saja berpindah tempat tugas, tetapi kenangan tentang tempat ia mengabdi akan tetap tinggal di dalam hati.
Begitulah hidup seorang Bhayangkara. Hari ini bertugas di satu daerah, esok berpindah ke daerah lain. Tidak banyak yang tahu berapa banyak keluarga yang harus rela berpisah, berapa banyak rencana pribadi yang ditunda, dan berapa banyak waktu bersama orang-orang tercinta yang dikorbankan demi memenuhi panggilan negara.
Pengabdian sejati memang jarang meminta tepuk tangan. Ia bekerja dalam diam, hadir ketika dibutuhkan, lalu melangkah pergi tanpa banyak meminta dikenang.
Kini estafet kepemimpinan berada di tangan AKBP Naim Ishak. Tugas baru telah menanti, tantangan baru akan datang, dan harapan masyarakat tetap sama: menghadirkan rasa aman, menjaga persaudaraan, serta merawat harmoni yang selama ini menjadi kebanggaan Fakfak.
Terima kasih, AKBP Dr. Hendriyana, atas setiap langkah, tenaga, pikiran, dan dedikasi yang telah dipersembahkan untuk Tanah Mbaham Matta. Semoga setiap jejak pengabdian menjadi amal kebaikan, dan semoga di tempat tugas yang baru senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, serta keberhasilan.
Karena pada akhirnya, jabatan memang memiliki masa. Tetapi pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu hidup dalam ingatan mereka yang pernah merasakan manfaatnya.